Menembus Sunyi dan Luka Bencana, EMT Muhammadiyah Layani Dokter Spesialis - MetroNTB.net

Menembus Sunyi dan Luka Bencana, EMT Muhammadiyah Layani Dokter Spesialis

Metrontb.net - Aceh Timur - Menembus Sunyi dan Luka Bencana, EMT Muhammadiyah Layani Dokter Spesialis Door-to-Door di Dusun Terpencil Sarah Gala Aceh Timur

Aceh Timur, 16 Januari 2026 – Di balik heningnya perbukitan dan terputusnya akses jalan, Dusun Sarah Gala, Desa Sah Raja, Kecamatan Pante Bidari, menyimpan kisah duka yang belum sepenuhnya pulih. Warga yang bertahan di tenda-tenda pengungsian masih bergulat dengan luka bencana, penyakit, dan keterbatasan layanan kesehatan. Dalam kondisi itulah, Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah hadir menembus keterisolasian, membawa harapan melalui layanan medis spesialistik dari pintu ke pintu.

Pada Kamis, 15 Januari 2026, tim EMT Muhammadiyah yang berada di bawah koordinasi Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) melakukan aksi jemput bola ke dusun terpencil tersebut. Bukan di ruang klinik atau bangunan permanen, layanan kesehatan diberikan langsung di bilik-bilik tenda pengungsian—tempat warga bernaung dari dinginnya malam dan sisa trauma bencana.

Prioritas Berdasarkan Asesmen Lapangan.

Keputusan menjangkau Sarah Gala bukan tanpa pertimbangan. Berdasarkan asesmen keamanan dan kebutuhan yang dilakukan oleh tim MDMC NTB, wilayah ini dinilai sebagai salah satu titik paling rentan. Medan ekstrem, akses terbatas, serta menurunnya kondisi kesehatan penyintas menjadikan dusun ini prioritas intervensi medis.

“Jika tidak segera disentuh, risiko komplikasi penyakit akan semakin besar, terutama pada kelompok rentan,” ungkap salah satu anggota tim asesmen di lapangan.

Perjalanan Berat dan Keputusan Bermalam Bersama Penyintas.

Perjalanan menuju Sarah Gala menuntut ketahanan fisik dan mental. Tim medis yang dipimpin oleh dr. M. Irfan Rizaldy (MDMC DIY) harus menembus jalur sulit, melewati medan berlumpur dan kontur alam yang terjal, dengan logistik terbatas.

Menyadari keterbatasan waktu dan urgensi kondisi warga, tim mengambil keputusan untuk bermalam di lokasi pengungsian. Di bawah tenda sederhana, mereka menyatu dengan para penyintas—berbagi dingin malam, kelelahan, dan cerita kehilangan.
“Kami memilih tinggal bersama warga agar bisa merespons cepat jika terjadi kondisi darurat, sekaligus memahami langsung situasi kesehatan mereka,” ujar dr. Irfan singkat.

Dokter Spesialis Masuk ke Bilik Tenda

Pendekatan door-to-door menjadi pilihan utama. Metode ini memungkinkan tim menjangkau lansia, anak-anak, dan warga yang tak mampu berjalan jauh. Di tengah keterbatasan cahaya dan fasilitas, diagnosa dilakukan langsung di dalam tenda.

dr. Sunrise D. Satria, M.Med.Sc., Sp.DVE, dokter spesialis kulit yang tergabung dalam tim, menggambarkan kondisi yang ditemui di lapangan.

“Banyak warga mengalami penyakit kulit yang sudah cukup lama—gatal kronis, infeksi, bahkan luka terbuka akibat paparan air banjir dan sanitasi yang sangat minim,” tuturnya.

Ia melanjutkan dengan suara tertahan,
“Sebagian pasien baru bisa berobat sekarang karena memang tidak ada akses. Dengan kami datang langsung, mereka merasa diperhatikan. Ada yang terharu hanya karena akhirnya bisa bertemu dokter.”

Layanan Kemanusiaan dari Tim Gabungan.

Dalam misi kemanusiaan ini, MDMC mengerahkan 9 personel lintas keahlian, gabungan tenaga medis dan relawan profesional dari RS PKU Muhammadiyah Sleman, RS AMC, PKU Bantul, PKU Gombong, serta Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA). Sebanyak 52 warga Dusun Sarah Gala berhasil mendapatkan layanan kesehatan langsung.

Secara keseluruhan, respon MDMC di Aceh Timur hingga kini telah menjangkau lebih dari 900 penyintas. MDMC merencanakan rotasi tim medis pada 19 Januari 2026, guna memastikan layanan kesehatan dan pendampingan psikososial tetap berlanjut sampai masyarakat benar-benar bangkit dari dampak bencana.

Tentang MDMC

Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) adalah lembaga penanggulangan bencana Persyarikatan Muhammadiyah yang bergerak secara profesional dalam penanganan darurat, mitigasi, hingga rehabilitasi pascabencana, baik di tingkat nasional maupun internasional. Dalam setiap langkahnya, MDMC menempatkan kemanusiaan sebagai poros utama pengabdian.

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda